LEGENDA KOTA BANYUWANGI

Banyuwangi, another secret of paradise


Mendengat kata Banyuwangi, memory saya menjadi flashback semasa saya kecil gemar membaca buku cerita anak-anak yang berisi asal muasal sebuah kota. Menurut legenda, Banyuwangi konon dinamakan seperti itu karena seorang putri yang terjun kelaut dan menimbulkan bau yang wangi, konon apabila yang tercium bau busuk maka sang putri dianggap bersalah dan berbau wangi maka ia tidak bersalah sama sekali.

Terhampar di wilayah seluas 5.800 km persegi, Banyuwangi memiliki topografi yang lumayan komplit -mulai dari dataran rendah hingga pegunungan- untuk ditanami berbagai tanaman industri. Tidak hanya tanahnya yang subur, Kabupaten Banyuwangi juga memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor pariwisata. Selain “segi tiga berlian” Kawah Ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade, di Banyuwangi terhampar banyak lokasi wisata yang sanggup menjadi “magnet” para pelancong.

Buku “Informasi Pariwisata Nusantara” terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2005 menyebutkan di Kota Banyuwangi sendiri terdapat Museum Blambangan, tepat di depan alun-alun di Jalan Sritanjung, yang memamerkan koleksi barang-barang perkakas berusia ratusan tahun yang terbuat dari gerabah atau perunggu serta bermacam kitab kuno. Dulu kala pada abad 16 terdapat kerajaan Blambangan dipesisir selatan Banyuwangi, kerajaan ini merupakan sempalan dari kerajaan Hindu Majapahit.

Bagi wisatawan yang berminat menikmati suasana perkebunan, alternatif pilihan demikian beragam di Banyuwangi. Ada Kebun Kandeng Lembu di Kalibaru, perkebunan di Kecamatan Glenmore, Kaliklatak di lereng Gunung Merapi, Kalibendo dan objek agrowisata di Kaliselogiri.Glenmore….adalah salahsatu nama wilayah di Banyuwangi yang namanya mirip bahasa asing. Tapi kota ini berhawa sejuk dan banyak terdapat tanaman anggur lokal, berwarna ungu tua dan kecil buahnya tapi cukup manis rasanya.

Perkebunan di Kaliklatak adalah perintis wisata agro di Tanah Air. Terletak di lereng Gunung Merapi, atau 15 km barat kota Banyuwangi, objek wisata perkebunan ini memiliki luas sekitar 100 ha dan dikelola oleh perusahaan swasta. Komoditas utama dari kawasan Kaliklatak antara lain berupa kopi, coklat, karet, cengkeh, dan rempah-rempah. Dan jangan salah, masyarakat di wilayah ini cukup kaya karena hasil kebun mereka. Tidak aneh apabila Bank Indonesia juga membuka kantor cabang di Jember yang berdekatan dengan wilayah ini. Nggak mungkin kan Bank Indonesia akan buka kantor cabang apabila tidak disurvey dulu tingkat penghasilan masyarakatnya.

Hal yang unik dari Banyuwangi adalah terdapatnya tiga taman nasional yang berfungsi aktif sebagai wahana konservasi flora dan fauna, yakni Taman Nasional Alas Purwo(TNAP), Taman Nasional Meru Betiri(TNMB) dan Taman Nasional Baluran. Taman Nasional Baluran letaknya sangat strategis, berada di tepi jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Mudah dijangkau, baik dari Pulau Bali maupun Surabaya. Ketika menginjakkan kaki di Taman Nasional Baluran, sambutan pertama yang akan menyapa para pengunjung adalah sekawanan monyet berekor panjang yang menghuni kawasan seluas 25 ribu ha itu. Apabila ditempuh dengan mobil selama 30 menit, semasa jadi sopir Jakarta – Bali saya sering melewati area ini. Suatu malam saya pernah menemukan sekumpulan rusa hutan yang berbadan bongsor mau menyebrang jalan. Sungguh menarik melewati hutan Baluran, saya sering melewati jalan ini antara pukul 07.00 – 10.00 pagi. Jadi masih fresh sekali udaranya, karena saya takut sendirian melewati hutan ini diwaktu malam. Konon hutan ini masih wingit……

Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40% tipe vegetasi savana mendominasi kawasan taman nasional ini.

Di Padang Rumput Bekol, pengunjung dapat menikmati pemandangan sekelompok banteng dan rusa dengan latar belakang Gunung Baluran (1.247m). Sebagian orang bahkan menyebut Padang Rumput Bekol sebagai miniatur padang rumput Afrika yang sangat terkenal itu. Seru lho kalau kemari membawa teropong sambil mengamati kawanan banteng, serasa di savana afrika selatan……

Objek wisata air mancur juga ada di Banyuwangi. Air mancur alami yang mengucur di dekat pantai terletak di kawasan Pancur yang masih berada di Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat untuk berteduh dan bersantai sembari menikmati suara deburan ombak serta melihat binatang liar dari hutan.

Pada Taman Nasional Alas Purwo terdapat beberapa gua yang digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi oleh kalangan supranatural. Gua sakral seperti Gua Istana dan Sendang Srengenge berada sekitar 2 km saja dari Pancur. Sementara tak jauh dari Pancur, terdapat karang hitam (karang mati) yang lebih dikenal dengan sebutan Karang Ireng, lengkap dengan pantai berpasir gotrinya. Gua-gua lain yang kerap dijadikan tempat bersemedi para lelono, sebutan bagi orang yang bermeditasi di sana, adalah Gua Padepokan dan Gua Putri. Perjalanan menuju gua-gua itu sangat mengesankan karena wisatawan berjalan di bawah rimbunnya Hutan Alas Purwo, bahkan tak jarang mereka juga terpaksa melintasi sungai kecil serta merangkak di bawah rumpun bambu yang tumbang. Cuma sayang akses menuju ke alas purwo masih agak sulit, seharusnya pemda banyuwangi menghaluskan jalannya dengan aspal yang baik agar tidak bolong2 lagi. Padahal wisatawan asing yang berselancar di pantai plengkung (konon nomor 3 terbaik di dunia ombak selancarnya) bisa menghabiskan waktu 1 minggu.

Di Taman Nasional Alas Purwo juga ada sebuah pura peninggalan sejarah, yang hingga kini masih dipakai oleh umat Hindu di Banyuwangi untuk upacara keagamaan Pagerwesi setiap 210 hari sekali. Memandangi tingkah polah satwa-satwa yang sedang merumput juga bisa dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo. Tepatnya di pos Sadengan, padang penggembalaan seluas 80 ha siap menjadi lokasi banteng, kijang, rusa, babi hutan, dan berbagai jenis burung bersantap pada pagi dan sore hari.

Berjarak 20 km dari Kota Banyuwangi, ada Pulau Tabuhan yang luasnya 5 ha dan memiliki pemandangan taman laut yang indah dengan batu karang yang menjadi rumah bagi ribuan ikan karang, udang, dan tumbuhan laut lainnya.

Di dekat Desa Ketapang, Kecamatan Giri, hamparan pasir putih Pantai Watu Dodol begitu indahnya bahkan pengunjung bisa melihat Pulau Bali yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali dari Banyuwangi. Nah kalau sudah disini, saya merasa lega karena perjalanan yang melelahkan dari Jakarta – Bali akan segera berakhir. Kenapa dinamakan watu dodol, karena ada sebuah batu besar terletak ditengah jalan, dan konon batu ini tidak bisa didinamit semasa pelebaran ruas jalan trans jawa. Setiap akan didinamit selalu gagal, bahkan sebuah alat buldozerpun pernah mati total waktu mau menghancurkan batu besar ini. Itulah kebesaran Tuhan…

Dari sini kita bisa memandang indahnya puncak bukit gunung Ijen yang berwarna kuning dari jauh, sementara taman nasional bali barat sudah terlihat dengan jelas. Jangan pernah menyebrangi selat Bali diwaktu malam pada bulan desember – februari. Karena arusnya yang kuat sehingga membuat pusaran air yang besar, tidak aneh apabila setiap tahun ada kapal ferri yang tenggelam. Once saya pernah menyebrang pukul 1 dini hari, guncangan ombaknya sungguh terasa sekali. Ngeri saya…

Dan salahsatu keelokan Banyuwangi adalah suku Osing dengan bahasanya yang khas serta budayanya yang mirip Bali. Mereka tiap tahun selalu melakukan ritual bersih desa dengan tarian Barongan – patung Barong seperti di Bali dan diiringi tetabuhan khas Banyuwangi, sungguh unik. Banyuwangi juga penghasil janur terbesar lho, hampir 60% janur untuk ritual harian masyarakat Hindu Bali dihasilkan dari pohon kelapa yang tumbuh di Banyuwangi.

Selain itu, Banyuwangi juga menjadi sentra bisnis usaha rumahan, barang2 seni yang terbuat dari bahan batok kelapa serta tas rajutan tangan dari bahan alam yang dijual di pasar Sukawati atau pasar2 seni lainnya di Bali berasal dari Banyuwangi. Dan yang lucu saat ini Bupati Banyuwangi dipimpin oleh seorang bupati wanita sementara sang suami Bupati tersebut menjadi Bupati Jembrana di Bali. Jadi cinta mereka dibagi selat Bali….hehehee

Cuma sayang kenapa tidak dibuat jembatan penghubung antara Jawa (Ketapang) dan Bali (Gilimanuk). Konon masyakarat Bali sebagian besar tidak menyetujui pembangunan jembatan tersebut karena akan mempermudah arus migrasi dari Jawa ke Bali. Karena saat ini populasi masyarakat Jawa yang tinggal di Bali cukup banyak. Tidak aneh waktu dulu saya tinggal di Bali selama hampir 2 tahun, menu harian saya adalah masakan warung Banyuwangi karena halal. Dibali, masyarakat menyebut warteg (warung tegal) di Jakarta sebagai warung banyuwangi, ya karena penjualnya orang banyuwangi..

Satuhal yang belum terwujud juga adalah pembangunan bandara perintis, konon lahan untuk bandara sudah disiapkan cuma dananya belum ada……….capek dekh. Secara ke banyuwangi lewat jalan darat aja bisa 8 jam dari surabaya dan naik kereta api…wah bisa 12 jam lebih kali yakh semenjak lumpur lapindo muncul…..weleh2……

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: